Pengalaman Scalling Gigi: Mulai Trauma Sampai Mau Lagi

78 Views

Satu setengah tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menyimpan sebuah karang yang bersemayam di gigi. Meskipun terasa sangat tidak nyaman, rupanya aku tetap memilih untuk pasrah dengan kenyataan ini. Padahal sih jika dirasakan dengan serius, sangatlah tidak nyaman berteman dengan si karang gigi yang mulai mengeras ini, menurut anjuran dokter sih, membersihkan karang gigi itu setidaknya rutin setiap enam bulan sekali. Dulu sih aku paling rajin untuk berkunjung ke dokter gigi, yah sekadar berkonsultasi maupun membersihkan karang gigi (scalling). Awalnya sih dalam rangka memanfaatkan asuransi saja, tapi lama-lama jadi keterusan buat ngobrol sama dokter giginya, sampai sering telponan berasa teman gitu. Oh, indahnya waktu itu. Sampai suatu ketika, dokter kesayangan pindah tugas ke klinik lain di luar Jakarta. Hiks,,,jadi galaulah aku. 


Kira-kira tujuh bulan usai pindahnya dokter kesayangan, aku pun mencoba untuk move on dari perpisahan (seperti sebuah kisah antara dokter dan pasien saja,hihihi..). Singkat cerita, aku pun mecoba untuk scalling gigi di klinik yang sama namun dengan dokter yang berbeda. Dan di sinilah awal mula aku mengalami trauma yang lumayan panjang dengan perawatan scalling. Padahal karang gigiku tidak begitu banyak ketika aku melihatnya di depan kaca. Tapi proses yang aku alami sangatlah tidak biasa. Bukan sebatas ngilu biasa, tapi lebih dominan ke rasa sakit yang teramat. Padahal aku sudah berulang kali mengernyitkan dahi dan memberikan aba-aba untuk berhenti karena tidak tahan dengan rasa sakitnya. Tapi tetap saja prosesnya harus terus berlanjut, hiks.. Rasanya pengen kabur saja saat itu. Memang sih dokter meberikan jeda ketika aku memberikan aba-aba. Tapi tetap saja setelah itu terulang proses menyakitkan yang sama. Dan aku pun hanya bisa pasrah sembari meremas pegangan dental chair sebagai pelampiasan.


Lima belas menit pun berlalu, dan dokter menuliskan resep berupa obat pereda nyeri (ibuprofen) dan vitamin C, padahal proses scalling sebelum-sebelumnya, dokterku tak pernah memberikan obat pereda nyeri maupun vitamin C. 


Baiklah aku nurut saja dengan menebus resep tersebut. Sesampainya di rumah, aku pun memakasakan diri untuk tidur dengan harapan "Mungkin setelah bangun tidur nanti, rasa sakitnya sudah hilang kali yah", celotehku dalam hati.


Dan ternyata, harapan tak seindah kenyataan. 


Selanjutnya di 


Comments

Signin Signup