Menumbuhkan Akhlatul Kharimah Umat Dengan Teladan Baginda Rasulullah SAW (Maulid Nabi Muhammad 1447 H/2019 M)

115 Views

Peringatan Maulid Nabi Muhamad
SAW yang diselenggarakan DKM Jami Darul Aqrom yang beralamat di Jl. SD III
Rt.003/08 Kelurahan Pondok Pinang, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan,
Provinsi DKI Jakarta. Di selenggarakan pada hari Sabtu, 9 November 2019 pada
Jam 19.30 WIB.



Dalam kesempatan ini saya
usahakan selalu untuk hadir, dimana kehidupan ini harus selalu berimbang antara
dunia dan akhirat.



“Carilah negeri AKHERAT pada nikmat yang diberikan Allah
kepadamu, tapi jangan kamu lupakan bagianmu dari dunia“. (QS. Al-Qosos: 77).



Dalam ayat ini, Allah
memerintahkan kita agar memanfaatkan nikmat dunia yang Allah berikan, untuk
meraih kemuliaan akhirat.



Maulid Nabi Muhamad SAW yang
bertemakan, “Menumbuhkan Akhlatur Kharimah Umat Dengan Teladan Baginda Rasullah
SAW” yang akan memberikan tausyiah adalah 
KH. Taufiq Hidayahtullah dan Ust. H. Jamaludin Yusuf dengan Qori Ust.
Iskandar
yang merupakan peserta qori terbaik di MTQ Nasional 2019 di  Medan, Sumatera Utara.



Hadir dalam peringatan ini Camat
Kebayoran Lama Drs. Aroman, M.Si, Lurah Pondok Pinang, Saidih,SP, Danramil,
Ketua RW 08 bersama para RT serta tokoh masyarakat dan jamaah masjid berjumlah
kurang lebih 400 orang.



Dalam menjalani kehidupan dewasa
ini, manusia memerlukan pedoman dan keteladanan sebagai panutan dalam
aktivitasnya. Umat Islam, hendaknya merujuk pada kepribadian dan akhak Nabi
Muhamad SAW dengan sebaik-baiknya.



 “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri
teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. al-Ahzab: 21).



NABI Muhammad SAW, adalah Rasul
terakhir (khataman nabiyin wa al-mursalin), beliau diutus untuk menyempurnakan
agama-agama sebelumnya, dan menjadi rahmatan lil ‘alamîn. Karenanya Islam yang
beliau bawa, misinya universal dan abadi. Universal artinya untuk seluruh
manusia dan abadi maksudnya sampai ke akhir zaman.
  



Kehadiran dan keberadaan Nabi
Muhammad saw, selaku personifikasi wahyu yang berada dalam ruang dan waktu
tertentu (limited), telah berhasil memformat, membangun dan mengembangkan
ajaran-ajarannya setelah berinteraksi dengan situasi, kondisi, kultur, tradisi,
karakter alam dan konstruksi sosial masyarakat Arab yang sangat
partikularistik. Beliau sendiri bersabda: “Sesungguhnya aku diutus hanyalah
untuk menyempurnakan keutamaan akhlak” (HR. Ahmad dan Baihaqi).



 Dalam diri Muhammad saw, sarat
dengan nilai moral dan akhlaqul karîmah. Suatu ketika seorang sahabat bertanya
kepada ‘Aisyah ra, tentang sifat-sifat Rasulullah, Aisyah dengan perasaan
terharu, mengatakan bahwa khuluquhu Alquran, akhlaq Rasulullah adalah Alquran.



 Alquran, sebagai sistem nilai
seperti dijelaskan bersifat universal, mencakup semua aspek likulli hal wa
al-zaman. Proses interaksi yang intens antara universalitas Alquran dan
partikularitas kultur asli masyarakat Arab itulah sebuah realitas dimulainya
“pembangunan manusia yang sangat ideal” (khaira ummah), berbasis moralitas
Islami, dengan konstruksi syariah kaffah.



Pembangunan yang berasaskan
akhlaq dan moral, merupakan 
prinsip-prinsip dalam mengubah (taghyîr) dari prilaku yang tidak terpuji
kepada yang mulia, sesuai penegasanya, untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Yang menjadi penekanan beliau dan program prioritas adalah berupaya
merehabilitir manusia lebih diutamakan dan selanjutnya memperbaiki kondisi
kehidupan dunia, yang saat itu dinilai sudah sangat parah dan kronis.



Hal tersebut menunjukkan bahwa
sesuai konsep Islam manusia harus lebih dulu diperbaiki, menjadi baik, kemudian
baru bisa dan dapat menggagas kebaikan dunia dan masyarakat secara menyeluruh.
Konsep yang ditawarkan Islam tentu sangat bertentangan dengan versi Barat
(nonmuslim) saat ini, yang lebih mengutamakan rehabilitasi alamnya dari pada
manusia, maka tidaklah heran munculnya berbagai pranata sosial baik di bidang
hukum, keadilan, hak-hak asasi manusia yang tidak sejalan dengan asas-asas
syariah dan lain-lain.



Melalui uswatun hasanah yang
demikian menyatu dalam diri Muhammad, yang sejak usia remaja dikenal dengan
sebutan al-Amin, telah mampu membawa perubahan besar bagi jazirah Arab yang
saat itu dijuluki dengan jahiliyah, didominasi superioritas kuffar Quraisy,
yang akhirnya tidak berdaya untuk menghambat dan menolak pesan-pesan moral yang
dibawanya, di samping sarat dengan nilai-nilai Ilahiyah.



Melalui penanaman nilai akidah
(imani) semakin meningkatkan harkat dan martabat jati diri manusia yang
sebelumnya sudah berada pada dataran binatang. Dengan demikian secara evolusi
telah menimbulkan rasa tanggung jawab terhadap agamanya, karena nilai iman dan
malu. Budaya malu itu sendiri diabstraksikan secara kaffah dalam wujud
masyarakat ideal lewat jalur mentalitas akhlak, al-hayau minal  iman,



 “Budaya malu itu sesungguhnya merupakan sebagai dari
(tolok ukur) kualitas iman seseorang” (HR. Bukhari dan Muslim).



Bahkan beliau menegaskan malu dan
iman itu padanan yang serasi, bila salah satunya hilang, hilanglah kedua-duanya. Saya berharap buat diri saya pribadi dalam
peringatan Maulid ini tentunya kita sebagai
umat muslim menjadi pesan agar
memahami makna dan keteladanan Baginda Rasulullah SAW. (ms)



VIDEO SELENGKAPNYA



 



 

Comments

Signin Signup